Wajah Bruntusan Tidak Selalu Jerawat: Kenali Penyebab dan Cara Mengatasinya

Wajah Bruntusan Tidak Selalu Jerawat: Kenali Penyebab dan Cara Mengatasinya - elmaskin.id

Wajah Bruntusan Tidak Selalu Jerawat: Kenali Penyebab dan Cara Mengatasinya

Pernah merasa wajah tiba-tiba terasa kasar saat diraba, muncul bintik-bintik kecil, atau tekstur kulit terlihat tidak rata? Kondisi seperti ini sering disebut sebagai bruntusan. Istilah bruntusan sebenarnya bukan diagnosis medis, melainkan istilah yang umum digunakan untuk menggambarkan permukaan kulit yang terasa berbintik atau tidak halus.

Menariknya, bruntusan juga tidak selalu berarti jerawat. Pada sebagian orang, bintik-bintik kecil tersebut memang berasal dari komedo. Namun, ada beberapa kondisi kulit lain yang tampilannya menyerupai jerawat atau dikenal sebagai acne mimickers. Karena penyebabnya berbeda, cara mengatasinya pun tidak selalu sama.

Mengapa Wajah Bisa Bruntusan?

Salah satu penyebab yang paling sering adalah pori-pori atau folikel rambut yang tersumbat. Sel kulit mati yang menumpuk dapat bercampur dengan minyak alami kulit atau sebum, kemudian menyumbat saluran folikel dan membentuk komedo.

Produksi minyak juga dipengaruhi oleh hormon androgen. Inilah salah satu alasan mengapa bruntusan dan jerawat cukup sering muncul saat pubertas atau pada kondisi tertentu yang menyebabkan perubahan hormon.

Mikroorganisme pada kulit juga dapat ikut berperan. Pada jerawat, misalnya, bakteri Cutibacterium acnes dapat berkembang di dalam folikel. Sementara itu, pada kondisi lain seperti Malassezia folliculitis, bintik-bintik kecil terjadi karena pertumbuhan berlebihan ragi Malassezia.

Selain faktor dari dalam tubuh, kebiasaan sehari-hari juga dapat memicu bruntusan. Penggunaan kosmetik yang terlalu berat atau komedogenik, produk rambut yang mengenai dahi, serta gesekan berulang dari helm, masker, atau benda lain dapat memperburuk penyumbatan dan iritasi kulit.

Pada beberapa orang, kondisi kulit yang cenderung kering dan gangguan proses pembentukan keratin juga dapat membuat sel kulit lebih mudah menumpuk di sekitar folikel.

Apa saja jenis “bruntus”an?  

Bruntusan yang paling umum adalah komedo tertutup atau whiteheads. Bentuknya berupa benjolan sangat kecil berwarna putih atau menyerupai warna kulit. Jika jumlahnya cukup banyak, terutama di area dahi dan T-zone, permukaan kulit dapat terasa kasar seperti amplas.

Ada pula komedo terbuka atau blackheads. Berbeda dari komedo tertutup, bagian atas pori masih terbuka sehingga campuran sebum dan keratin di dalamnya terpapar udara. Proses oksidasi kemudian membuat permukaannya tampak gelap.

Bintik putih kecil juga bisa berupa milia. Milia merupakan kista kecil berisi keratin yang biasanya berwarna putih hingga kekuningan, terasa cukup padat, dan sering muncul di sekitar mata atau pipi.

Jenis lainnya adalah keratosis pilaris, yaitu kondisi ketika keratin menumpuk dan menyumbat folikel rambut. Kulit dapat terasa kasar dengan bintik-bintik kecil menyerupai “kulit ayam”, termasuk pada area pipi.

Ada juga Malassezia folliculitis yang kerap disalahartikan sebagai jerawat. Kondisi ini biasanya menimbulkan bintik atau pustul kecil dengan ukuran yang hampir seragam dan dapat terasa gatal. Salah satu ciri yang membedakannya dari jerawat adalah biasanya tidak ditemukan komedo.

Beberapa kondisi lain seperti trichostasis spinulosa maupun jenis folikulitis tertentu juga dapat memberikan tampilan menyerupai bruntusan. Karena itulah, apabila bruntusan terus muncul meskipun sudah menggunakan berbagai produk perawatan, pemeriksaan dokter diperlukan untuk memastikan penyebabnya.

Bagaimana Cara Mencegah Bruntusan?

Perawatan tidak harus dimulai dari banyak produk. Justru, langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten sering kali jauh lebih penting.

Cuci wajah dua kali sehari menggunakan pembersih yang lembut dan hindari menggosok kulit terlalu keras. Setelah berolahraga atau berkeringat banyak, wajah juga sebaiknya segera dibersihkan.

Pilih produk perawatan dan kosmetik yang memiliki keterangan non-comedogenic, oil-free, atau berbasis air, terutama bila kulit mudah berkomedo.

Jangan lupa membersihkan makeup sebelum tidur. Membiarkan riasan menempel semalaman dapat meningkatkan risiko pori tersumbat.

Hal lain yang tidak kalah penting adalah menghindari kebiasaan memencet bruntusan sendiri. Memencet kulit dengan tangan yang tidak steril justru dapat menyebabkan iritasi, peradangan, bahkan meninggalkan bekas.

Skincare Apa yang Bisa Membantu?

Pemilihan bahan aktif sebaiknya disesuaikan dengan penyebab bruntusan dan kondisi kulit masing-masing.

Untuk kulit yang mudah berkomedo, retinoid topikal seperti adapalene atau tretinoin dapat membantu mencegah penyumbatan folikel dan mempercepat proses pergantian sel kulit. Namun, penggunaannya perlu dilakukan secara bertahap karena dapat menimbulkan iritasi pada sebagian orang.

Salicylic acid atau BHA juga sering digunakan karena mampu bekerja di dalam pori untuk membantu mengurangi penumpukan minyak dan sel kulit mati.

Bahan aktif lain seperti azelaic acid, benzoyl peroxide, maupun AHA seperti glycolic acid dan lactic acid dapat digunakan pada kondisi tertentu. Meski demikian, tidak berarti semua bahan aktif harus digunakan sekaligus.

Menggabungkan terlalu banyak bahan eksfoliasi justru dapat merusak skin barrier dan membuat kulit semakin sensitif.

Selain bahan aktif, jangan melupakan pelembap. Kulit yang memiliki skin barrier sehat akan lebih mampu mempertahankan kelembapan dan menghadapi iritasi. Penggunaan sunscreen setiap pagi juga penting untuk melindungi kulit dari paparan sinar ultraviolet.

Kapan Bruntusan Membutuhkan Treatment di Klinik?

Apabila bruntusan tidak membaik dengan perawatan sehari-hari, dokter dapat merekomendasikan tindakan berdasarkan penyebabnya.

Pada komedo, misalnya, dapat dilakukan ekstraksi komedo menggunakan alat steril. Chemical peeling juga dapat dipertimbangkan untuk membantu proses eksfoliasi kulit dan mengurangi penyumbatan pori.

Pada milia, dokter dapat membuat bukaan kecil menggunakan alat steril kemudian mengeluarkan keratin yang terperangkap. Sementara itu, apabila penyebab bruntusan adalah Malassezia folliculitis, terapi yang digunakan berbeda dari terapi jerawat biasa dan dapat melibatkan obat antijamur.

Beberapa kondisi tertentu juga mungkin membutuhkan obat resep dokter seperti retinoid oral, terapi hormonal, maupun obat lainnya. Karena memiliki indikasi, efek samping, dan kontraindikasi tertentu, obat-obatan tersebut tidak dianjurkan digunakan tanpa pemeriksaan dokter.

Tindakan lain seperti mikrodermabrasi, chemical peeling, atau terapi berbasis laser juga dapat dipertimbangkan sesuai kondisi dan kebutuhan kulit pasien.

Jadi, Jangan Asal Menyebut Semua Bruntusan sebagai Jerawat

Bruntusan memang terlihat sederhana, tetapi penyebabnya ternyata cukup beragam. Bisa berasal dari komedo, milia, keratosis pilaris, folikulitis, hingga kondisi kulit lain yang tampilannya menyerupai jerawat.

Karena itu, treatment yang efektif untuk satu jenis bruntusan belum tentu cocok untuk jenis lainnya. Daripada terus berganti-ganti skincare tanpa mengetahui penyebabnya, pemeriksaan kulit dapat membantu menentukan perawatan yang lebih tepat.

Jika bruntusan terus muncul, terasa gatal, meradang, atau tidak membaik meskipun sudah melakukan perawatan di rumah, konsultasikan kondisi kulit Anda dengan dokter di Elmaskin. Dengan mengetahui penyebabnya terlebih dahulu, perawatan dapat disesuaikan sehingga lebih aman dan optimal.

Ditulis oleh dr. Caren S. Theresia, dokter praktik Elmaskin Surabaya

Referensi

1. Cleveland Clinic. (2025). Comedonal acne: Causes & treatment. Cleveland Clinic Health Library. 

2. Najeeb, A., Gaurav, V., & Sharma, R. (2024). Comedones in dermatology. Indian Journal of Dermatology, Venereology and Leprology, 90(3), 396–407.

3. Wong, C. M., et al. (2024). Presentations of cutaneous disease in various skin pigmentations: Acne vulgaris – Comedonal acne. HCA Healthcare Journal of Medicine, 5(1).

4. Chalupczak, N. V., & Lipner, S. R. (2025). Malassezia folliculitis: An underdiagnosed mimicker of acneiform eruptions. Journal of Fungi, 11(9), 662.

5. Gallardo Avila, P. P., & Mendez, M. D. (2023). Milia. StatPearls Publishing.

6. British Association of Dermatologists. (2021). Keratosis pilaris.

7. Pennycook, K. B., & McCready, T. A. (2023). Keratosis pilaris. StatPearls Publishing.

8. Soundarya, S., & Jayakar, T. (2023). Acne mimickers: Differential diagnosis of open comedones: A short review. Our Dermatology Online, 14(2), 234–239.

9. Winters, R. D., & Mitchell, M. (2023). Folliculitis. StatPearls Publishing.