Rambut Rontok Normal atau Sudah Berlebihan? Ini Cara Membedakannya
Melihat beberapa helai rambut tertinggal di sisir, bantal, atau lantai kamar mandi sering kali membuat khawatir. Apalagi jika rambut yang terkumpul tampak lebih banyak dari biasanya. Tidak sedikit orang yang kemudian langsung menganggap dirinya mengalami kebotakan, padahal rambut rontok sebenarnya merupakan bagian alami dari siklus pertumbuhan rambut.
Namun, kerontokan juga bisa menjadi tanda bahwa lebih banyak folikel rambut dari biasanya sedang memasuki fase istirahat dan akhirnya rontok secara bersamaan. Salah satu kondisi yang cukup sering menyebabkan hal ini disebut telogen effluvium (TE), yaitu kerontokan rambut yang terjadi secara menyeluruh atau difus tanpa menyebabkan jaringan parut pada kulit kepala.
Berapa Banyak Rambut Rontok yang Masih Normal?
Rambut manusia tidak tumbuh terus-menerus. Setiap folikel rambut mengalami siklus yang terdiri dari fase pertumbuhan atau anagen, fase transisi atau catagen, dan fase istirahat atau telogen. Setelah mencapai akhir fase telogen, rambut akan terlepas dan kemudian digantikan oleh pertumbuhan rambut baru.
Secara umum, kerontokan sekitar 100 helai rambut per hari masih dianggap normal. Pada kondisi telogen effluvium, jumlah rambut yang rontok dapat meningkat secara signifikan dan dalam literatur dilaporkan dapat mencapai sekitar 400 helai per hari.
Meski begitu, kita tentu tidak perlu menghitung satu per satu rambut yang rontok setiap hari. Jumlah rambut yang terlihat juga dapat berbeda tergantung panjang rambut, frekuensi keramas, cara menyisir, hingga seberapa sering rambut dikumpulkan atau dibersihkan.
Hal yang lebih penting adalah memperhatikan perubahan dari kondisi biasanya. Jika tiba-tiba rambut jauh lebih banyak tertinggal saat keramas, memenuhi sisir, atau terus berjatuhan ketika rambut disentuh, kondisi tersebut layak diperhatikan.
Ketika Kerontokan Menjadi Lebih Banyak dari Biasanya
Salah satu penyebab kerontokan berlebihan adalah telogen effluvium. Pada kondisi ini, sejumlah besar folikel rambut yang sebelumnya berada dalam fase pertumbuhan masuk ke fase istirahat lebih cepat, kemudian rambut-rambut tersebut rontok dalam periode yang relatif berdekatan.
Ciri yang cukup khas adalah kerontokan terjadi secara menyeluruh di kulit kepala, bukan hanya pada satu titik tertentu. Menariknya, kerontokan yang cukup banyak belum tentu langsung menyebabkan area botak atau penipisan rambut yang terlihat jelas. Pada sebagian orang, peningkatan jumlah rambut yang rontok justru lebih dahulu disadari daripada perubahan kepadatan rambut.
Berdasarkan durasinya, telogen effluvium dapat dibedakan menjadi akut dan kronis. Kerontokan yang berlangsung kurang dari enam bulan dikategorikan sebagai acute telogen effluvium, sedangkan kerontokan yang menetap lebih lama dari enam bulan dapat digolongkan sebagai chronic telogen effluvium.
Mengapa Rambut Bisa Tiba-Tiba Rontok Banyak?
Kerontokan rambut tidak selalu berasal dari masalah pada rambut itu sendiri. Kondisi tubuh beberapa waktu sebelumnya juga dapat memengaruhi siklus pertumbuhan rambut.
Beberapa faktor yang diketahui dapat memicu telogen effluvium antara lain demam atau penyakit berat, stres psikologis yang cukup besar, penurunan berat badan yang signifikan, persalinan, penggunaan obat tertentu, operasi besar, serta kekurangan nutrisi. Pada sebagian kasus, kerontokan baru mulai terlihat sekitar tiga bulan setelah faktor pencetus terjadi.
Gangguan hormonal dan kondisi tertentu seperti gangguan fungsi tiroid, anemia, maupun kekurangan zat besi juga perlu dipertimbangkan. Penelitian Karakoyun dan rekan pada 2.851 perempuan dengan telogen effluvium menemukan kadar ferritin rendah pada 46,5% pasien yang diperiksa dan kadar zat besi rendah pada 29,5% pasien. Penelitian tersebut juga menemukan sebagian pasien memiliki kelainan kadar vitamin B12, hemoglobin, maupun parameter fungsi tiroid.
Namun, temuan tersebut bukan berarti setiap orang yang rambutnya rontok pasti kekurangan zat besi atau vitamin tertentu. Pemeriksaan perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien. Karena itu, mengonsumsi berbagai suplemen rambut tanpa mengetahui penyebab kerontokan bukan selalu menjadi solusi yang tepat.
Rambut Rontok atau Mulai Mengalami Kebotakan?
Kerontokan berlebihan juga perlu dibedakan dari androgenetic alopecia, yaitu pola penipisan rambut yang berkaitan dengan faktor genetik dan hormonal.
Pada telogen effluvium, keluhan biasanya lebih dominan berupa rambut yang tiba-tiba rontok dalam jumlah banyak dan tersebar di berbagai bagian kulit kepala. Sementara itu, androgenetic alopecia cenderung berkembang secara perlahan dengan penipisan rambut yang semakin terlihat pada pola tertentu. Pada perempuan, misalnya, penipisan lebih sering tampak pada area tengah hingga puncak kepala, sementara garis rambut bagian depan relatif tetap terjaga.
Keduanya juga dapat terjadi bersamaan. Karena tampilannya terkadang mirip, jumlah rambut yang rontok saja tidak cukup untuk menentukan penyebabnya. Pemeriksaan kulit kepala dengan trichoscopy pemeriksaan menggunakan alat pembesar khusus untuk melihat rambut dan kulit kepala dapat membantu dokter membedakan berbagai kondisi penyebab kerontokan.
Bagaimana Dokter Menilai Rambut Rontok?
Evaluasi kerontokan rambut biasanya dimulai dari riwayat yang cukup mendetail. Dokter dapat menanyakan kapan kerontokan mulai terjadi, berapa lama berlangsung, apakah terdapat perubahan pola rambut, obat yang sedang atau baru dihentikan, pola makan, hingga riwayat stres fisik maupun psikologis.
Pemeriksaan selanjutnya dapat meliputi kondisi kulit kepala, pola distribusi kerontokan, hair pull test, serta trichoscopy. Bila terdapat indikasi tertentu, pemeriksaan laboratorium seperti darah lengkap, kadar ferritin atau cadangan zat besi, dan fungsi tiroid juga dapat dipertimbangkan.
Pendekatan ini penting karena perawatan rambut rontok sebaiknya disesuaikan dengan penyebabnya, bukan hanya berfokus pada bagaimana menghentikan rambut yang jatuh.
Apakah Rambut yang Rontok Bisa Tumbuh Kembali?
Kabar baiknya, telogen effluvium secara umum merupakan kondisi yang dapat membaik, terutama ketika faktor pencetusnya sudah teridentifikasi dan teratasi. Literatur yang ditelaah Jimeno Ortega dan Stefanato menyebutkan bahwa TE umumnya bersifat self-limited, atau dapat membaik dengan sendirinya.
Penanganannya terutama diarahkan pada penyebab yang mendasari. Jika terdapat gangguan nutrisi, hormonal, penggunaan obat tertentu, atau kondisi kesehatan lainnya, faktor tersebut perlu dievaluasi terlebih dahulu. Bahkan untuk chronic telogen effluvium, belum terdapat satu jenis terapi yang dapat dianggap sebagai terapi standar untuk semua pasien.
Karena itu, jangan terburu-buru mencoba berbagai vitamin, serum, atau treatment hanya karena melihat rambut lebih banyak rontok. Mengetahui jenis dan penyebab kerontokan merupakan langkah pertama untuk menentukan perawatan yang lebih tepat.
Kesimpulan
Rambut rontok merupakan bagian normal dari siklus rambut dan sekitar 100 helai per hari masih dapat dianggap normal. Namun, apabila jumlah rambut yang rontok berubah drastis, terjadi terus-menerus, disertai penipisan rambut, atau mulai mengganggu kenyamanan, sebaiknya penyebabnya dievaluasi lebih lanjut.
Kerontokan rambut dapat dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari stres, kondisi setelah sakit atau persalinan, penurunan berat badan, kekurangan nutrisi, gangguan hormonal hingga pola kebotakan tertentu. Karena penyebabnya berbeda-beda, solusi untuk setiap orang pun tidak selalu sama.
Jika kamu merasa rambut semakin banyak rontok atau mulai terlihat menipis, konsultasikan kondisi rambut dan kulit kepala dengan dokter di Elmaskin. Pemeriksaan yang tepat dapat membantu mengetahui penyebab kerontokan sehingga perawatan dapat disesuaikan dengan kebutuhan rambutmu.
Ditulis oleh dr. Caren S. Theresia, dokter praktek Elmaskin Surabaya.
Referensi
-
Jimeno Ortega, I., & Stefanato, C. M. (2023). Telogen effluvium: A 360 degree review. Italian Journal of Dermatology and Venereology, 158(6), 457–466. https://doi.org/10.23736/S2784-8671.23.07579-5
-
Khutsishvili, N., Rudnicka, L., Ovcharenko, Y., Starace, M., Buchukuri, I., Pataraia, S., & Lortkipanidze, N. (2024). Trichoscopy – A valuable tool for identifying conditions mimicking androgenetic alopecia. International Journal of Dermatology, 63, 23–31. https://doi.org/10.1111/ijd.16895
-
Karakoyun, Ö., Ayhan, E., & Yıldız, İ. (2025). Retrospective review of 2851 female patients with telogen effluvium: A single-center experience. Journal of Cosmetic Dermatology, 24, e70037. https://doi.org/10.1111/jocd.70037