Menurunkan berat badan bukan sekadar tentang mengurangi makan atau menambah olahraga. Berat badan dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk pola makan, aktivitas fisik, kualitas tidur, hormon, metabolisme, kondisi kesehatan, hingga faktor genetik. Seiring berkembangnya ilmu kedokteran, pendekatan terhadap pengelolaan berat badan juga semakin berkembang. Saat ini, program weight management tidak hanya berfokus pada angka di timbangan, tetapi juga pada kesehatan metabolik, komposisi tubuh, dan kemampuan mempertahankan hasil dalam jangka panjang.
Salah satu perkembangan yang banyak mendapat perhatian adalah penggunaan obat berbasis GLP-1 dan GIP/GLP-1, seperti semaglutide dan tirzepatide. WHO pada 2025 memasukkan terapi GLP-1 sebagai salah satu pilihan dalam penanganan obesitas pada orang dewasa, dengan catatan bahwa terapi tersebut tetap menjadi bagian dari pendekatan yang komprehensif bersama pola makan sehat, aktivitas fisik, dan pendampingan tenaga kesehatan.
Mengapa Berat Badan Sulit Turun?
Tubuh memiliki sistem yang secara alami mengatur rasa lapar, kenyang, dan penggunaan energi. Setelah berat badan turun, perubahan biologis tertentu dapat membuat rasa lapar meningkat dan tubuh cenderung mempertahankan berat badan sebelumnya. Karena itu, seseorang dapat mengalami kesulitan mempertahankan hasil diet meskipun sudah berusaha mengatur pola makan. Pendekatan modern melihat obesitas sebagai kondisi kronis yang membutuhkan pengelolaan secara menyeluruh, bukan sekadar program diet dalam waktu singkat.
Memulai dengan Evaluasi Tubuh
Program penurunan berat badan sebaiknya diawali dengan evaluasi, bukan langsung memilih obat atau treatment. Dokter dapat menilai BMI, lingkar pinggang, komposisi tubuh, pola makan, aktivitas fisik, riwayat kesehatan, obat-obatan yang sedang digunakan, serta kondisi metabolik. Evaluasi ini membantu menentukan apakah seseorang cukup dengan perubahan gaya hidup atau memerlukan tambahan terapi medis. Pedoman klinis terbaru juga menekankan bahwa keputusan penggunaan obat perlu mempertimbangkan kondisi kesehatan dan faktor risiko yang berkaitan dengan berat badan.
Pola Makan dan Aktivitas Tetap Menjadi Dasar
Walaupun terapi medis semakin berkembang, pola makan dan aktivitas fisik tetap menjadi bagian penting dari weight management. Pola makan sebaiknya tidak hanya berorientasi pada pembatasan kalori, tetapi juga memperhatikan kualitas makanan, kecukupan protein, serat, serta pola makan yang realistis untuk dijalankan dalam jangka panjang. Aktivitas fisik juga penting, terutama latihan kekuatan untuk membantu mempertahankan massa otot selama proses penurunan berat badan. Dengan demikian, tujuan program bukan hanya membuat angka timbangan turun, tetapi membantu memperbaiki komposisi tubuh dan kesehatan secara keseluruhan.
Peran Terapi GLP-1 dalam Weight Management
Salah satu perkembangan terbaru adalah terapi yang bekerja pada hormon pengatur nafsu makan. GLP-1 merupakan hormon yang membantu mengatur gula darah dan rasa kenyang. Obat berbasis GLP-1 dapat memperlambat pengosongan lambung dan membantu mengurangi asupan makanan sehingga seseorang dapat merasa kenyang lebih lama. Selain itu, terdapat tirzepatide, yang bekerja pada dua jalur hormon, yaitu GIP dan GLP-1.
Namun, obat ini bukan untuk semua orang yang ingin menurunkan beberapa kilogram. Penggunaannya perlu berdasarkan indikasi medis dan resep dari tenaga kesehatan. Bukan sekadar “Suntik Pelangsing”. Istilah “suntik pelangsing” sering digunakan secara umum, padahal obat GLP-1 merupakan obat medis dengan indikasi, dosis, kontraindikasi, dan efek samping tertentu. Keluhan yang paling sering muncul berkaitan dengan saluran pencernaan, seperti mual, muntah, diare, dan konstipasi. Karena itu, pemilihan obat dan penyesuaian dosis perlu dilakukan secara bertahap serta dipantau oleh dokter.
WHO juga mengingatkan mengenai penggunaan obat GLP-1 yang diperoleh melalui sumber tidak resmi atau digunakan tanpa indikasi medis. Penggunaan seperti ini dapat meningkatkan risiko terkait keamanan dan kualitas obat.
Setelah Berat Badan Turun
Menurunkan berat badan merupakan satu tahap. Mempertahankan hasil merupakan tahap berikutnya. Karena itu, program weight management idealnya tidak berhenti ketika target berat badan tercapai. Pola makan, aktivitas fisik, pemantauan berat badan, serta evaluasi berkala tetap diperlukan.
Pada sebagian orang, terapi medis juga dapat menjadi bagian dari pengelolaan jangka panjang sesuai evaluasi dokter. WHO menempatkan obesitas sebagai kondisi kronis yang membutuhkan perawatan berkelanjutan dan berpusat pada kebutuhan individu.
Kesimpulan
Perkembangan terbaru dalam pengelolaan berat badan memberikan lebih banyak pilihan, mulai dari perubahan pola makan dan aktivitas fisik hingga terapi medis seperti GLP-1 dan GIP/GLP-1.Namun, tidak ada satu metode yang cocok untuk semua orang. Pendekatan yang lebih tepat dimulai dengan memahami kondisi tubuh, menentukan tujuan yang realistis, kemudian memilih terapi berdasarkan kebutuhan dan indikasi medis.
Jika Anda ingin mengetahui kondisi tubuh dan pilihan weight management yang sesuai, konsultasi dengan dokter kami di klinik Elmaskin dapat menjadi langkah awal untuk mendapatkan evaluasi dan perencanaan perawatan yang lebih personal.
Ditulis oleh: dr. Fa’izah Ramadhani Sudarko, dokter praktek Elmaskin Surabaya Barat
Referensi
-
Pedersen SD, Manjoo P, Dash S, Jain A, Pearce N, Poddar M. Pharmacotherapy for obesity management in adults: 2025 clinical practice guideline update. CMAJ. 2025;197(27):E797-E809. doi:10.1503/cmaj.250502.
-
World Health Organization. WHO guideline on the use of GLP-1 therapies for the treatment of obesity in adults. Geneva: World Health Organization; 2025.
-
World Health Organization. Obesity: GLP-1 therapies—questions and answers. Geneva: World Health Organization; 2025.
-
World Health Organization. Obesity and overweight. Geneva: World Health Organization; 2025.
-
World Health Organization. Statement on the safe and appropriate use of GLP-1 receptor agonists. Geneva: World Health Organization; 2026.